29 March 2013

Hasil Analisis Survey


ANALISIS SURVEY
Pengaruh Gadget Bagi Kehidupan Mahasiswa TI


Gadget (perangkat elektronik) saat ini sudah semakin pesat perkembangannya mulai dari smartphone, laptop, netbook dan tablet yang sudah banyak beredar di pasaran. Mulai dari harga gadget dari yang termurah sampai yang termahal juga teknologi yang diusungnya dengan berbagai kecanggihan yang sangat luar biasa. Katakan saja saat ini sedang tren smartphone dan tablet yang berbasis android, iOS, dan Blasckbeerry OS, laptop yang berbasis windows dan MacOS serta teknologi lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Survey saya ini membahas tentang pengaruh teknologi gadget tersebut bagi mahasiswa Teknologi Informasi USU. Termasuk bagaimana mahasiswa mengikuti perkembangan teknologi yang semakin pesat dan apakah tanggapan mereka tentang teknologi gadget tersebut. Survey saya juga akan membahas tentang pengaruh gadget tersebut dengan psikologi masing-masing mahasiswa TI. Dibawah ini adalah 4 pertanyaan yang berkaitan dengan topic survey saya dan 2 pertanyaan yang saya buat untuk meminta feedback dari para responden tentang isi survey saya. 

1. Apakah Anda seorang penggemar / selalu mengikuti perkembangan gadget-gadget canggih masa  kini?
2. Gadget apa yang sudah Anda miliki saat ini?
3.    Perkembangan teknologi yang sangat cepat khususnya dalam teknologi gadget secara tidak langsung        memberikan dampak bagi Anda seorang mahasiswa TI. Bagaimana cara Anda menanggapi dampak tersebut?
4. Apakah pengaruh kecanggihan teknologi dengan dampak psikologi yang Anda rasakan?
5. Bagaimana menurut Anda survey ini?
6. Apakah saran Anda untuk survey ini supaya lebih baik lagi?



HASIL  ANALISIS

Saya menemukan ada 42 responden yang mengisi survey saya, berdasarkan hasil responsi tersebut inilah hasil dari analisis saya.

Pada pertanyaan pertama sebanyak 90% responden menjawab tidak terlalu mengikuti perkembangan gadget-gadget canggih tersebut. Mereka mengungkapkan berbagai alasan yaitu salah satunya mereka lebih kepada mengikuti perkembangan aplikasi-aplikasi yang terdapat pada gadget tersebut, alasan lain adalah hanya untuk menambah pengatahuan dan referensi mengenai teknologi terkini dan tidak sampai dalam tahap ingin membeli gadget tersebut. Sedangkan 10% sisanya memilih untuk selalu mengikuti perkembangan gadget dengan alasan teknologi merupakan suatu hal yang menarik untuk diikuti perkembangannya. Alasan lain adalah supaya tidak ketinggalan dan terbelakang.

Inilah hasil responsi pada pertanyaan kedua, sebanyak 50% responden memiliki laptop, 36% memiliki smartphone, 11% memiliki tablet dan 4% memiliki gadget lainnya.




Hampir semua responden menanggapi dampak perkembangan teknologi gadget yang sangat cepat dengan mengambil manfaat yang positif dari sebuah gadget dan mengesampingkan manfaat negatifnya. Dengan cara menggunakan gadget yang sesuai kebutuhan masing-masing dan membatasi diri dalam penggunaannya karena dikhawatirkan akan terjadi ketergantungan yang berlebihan terhadap gadget tersebut. Contoh ketergantungan tersebut misalnya jika ada gadget keluaran terbaru kita langsung berhasrat untuk memilikinya namun dana kita tidak mencukupi. Sebaliknya meskipun kita harus membatasi diri dalam membeli gadget keluaran terbaru kita harus selalu mengikuti perkembangan teknologinya agar dapat menambah wawasan kita. 

Pengaruh kecanggihan teknologi dengan dampak psikologi yang dirasakan para responden sangat beragam. Beberapa diantaranya adalah kurangnya waktu bersosialisasi secara langsung, kurangnya kepedulian kita terhadap sekitar karena kita lebih focus ke gadget, manusia akan menjadi semakin malas dengan adanya teknologi yang semakin canggih, karena manusia tidak perlu lagi mengeluarkan usaha ekstra untuk mendapatkan apa yang sebelumnya tidak bisa didapatkan langsung dari teknologi itu sendiri,  berinteraksi dengan orang lain walaupun tidak saling mengenal dan berada di tempat yang jauh, menjadi semakin ingin tahu dan terdorong untuk mempelajari kecanggihan teknologi tersebut, menjadi semakin lupa waktu, dll.  Beberapa responden lain menanggapi dampak psikologi ini biasa-biasa saja. 

Berdasarkan hasil response yang para responden berikan pada 2 pertanyaan terakhir, saya mendapatkan banyak sekali masukan dan saran. Sebanyak 83% survey saya sudah cukup baik, 5% kurang baik, dan 2% sangat baik. Saran dari para responden untuk isi dari survey ini adalah membuat jawaban pertanyaan dalam bentuk pilihan ganda karena jarang ada responden yang mau menulis. Saran yang lain adalah supaya saya lebih meningkatkan kreativitas dalam membuat survey.


KESIMPULAN HASIL  ANALISIS

Perkembangan dan kecanggihan teknologi gadget sangat mempengaruhi psikologi mahasiswa TI. Dampak dari psikologi tersebut adalah perubahan perilaku para mahasiswa TI yang dapat langsung kita lihat seperti munculnya rasa malas belajar karena lebih mementingkan browsing, chatting, dan bermain game, kurangnya interaksi dengan dunia nyata, termotivasi untuk terus mendapatkan gadget-gadget keluaran terbaru, menjadi penyendiri, dll. Dampak psikologi tersebut tidak hanya dapat mempengaruhi mahasiswa itu sendiri tetapi juga dapat mempengaruhi lingkungan disekitarnya.

Tetapi meskipun begitu para mahasiswa tetap harus membatasi diri dari kehausan akan gadget tersebut karena nantinya akan menjadi sangat ketergantungan terhadap gadget dan mengakibatkan ketidakseimbangan antara mahasiswa dan lingkungannya. Sebaliknya, perkembangan teknologi gadget bukanlah hal yang harus dihindari melainkan ditanggapi dengan positif dengan cara memotivasi diri untuk mempelajari teknologi-teknologi terbaru yang ada dan mengikuti perkembangan aplikasi-aplikasinya. Mahasiswa juga harus meminimalkan dampak-dampak negative gadget dan memaksimalkan dampak positifnya.


TESTIMONI

Ini adalah pertama kalinya saya membuat survey melalui internet dan menganalisisnya. Awalnya saya sempat kesulitan dalam membuat survey ini karena saya belum tau apa isi survey yang akan saya buat, namun akhirnya saya dapat menemukan satu topik yang rasa cocok untuk dibuat sebuah survey. Akhirnya saya memposting link survey saya di grup Facebook dan meminta teman-teman TI untuk membantu mengisi survey saya dan saya pun mengisi survey mereka juga. Isi survey teman-teman saya sangat unik dan beragam, saya tidak menyangka kalau mereka sangat kreatif dalam membuat topik survey. Semua teman-teman saya juga memposting link survey mereka di grup Facebook supaya dapat diisi oleh anak-anak TI.

Pada saat mau membuat analisis survey saya kembali mengalami kesulitan karena ini juga pertama kalinya saya menganalisis survey yang saya buat. Saya pun meminta bantuan teman-teman saya dalam hal ini. Overall, tugas untuk membuat survey ini sangat menyenangkan meskipun awalnya sedikit menyulitkan. Saya jadi mengerti bagaimana caranya membuat survey sendiri dan kemudian menganalisisnya. Saya juga dapat memberikan pendpat saya ketika saya mengisi survey teman-teman saya yang lain. Proses belajar membuat survey ini juga melatih saya untuk lebih meningkatkan kreativitas saya. 





23 March 2013

Teori Belajar Kognitif

A. Anggota Kelompok 8

  1. Faisal Fadly (111402006)
  2. Environt Spratly A (111402014)
  3. Jun Arthur R (11402058)
  4. Fachru Rozi N (111402094)

B. Hasil Diskusi

Teori belajar kognitif adalah sebuah proses berpikir untuk menemukan informasi yang berasal dari luar dimana dalam prosesnya sendiri sangat menekankan unsur-unsur pemikiran otak manusia. Ada beberapa ahli yang mengemukakan teori ini yaitu :

   a. Jean Piaget
   b. David Ausubel
   c. Jerome Bruner
   d. Mex Wertheimenr 
   e. Kohler
   f. Kurt Lewin 

Dalam diskusi kali ini kami membahas teori yang dikemukakan oleh Jerome Bruner. Bruner mengatakan bahwa belajar adalah proses mencari pengetahuan melalui pengalaman dan eksperimen yang dilakukan oleh masing-masing individu. Sehingga dalam proses belajar yang sangat penting adalah bagaimana seorang individu dapat menemukan konsep sendiri tentang suatu pengetahuan melalui 3 tahapan penting yaitu informasi, transformasi dan evaluasi. Bruner menyebut ini sebagai “discovery” atau “belajar dengan menemukan konsep sendiri”. Sebenarnya belajar kognitif sudah diterapkan pada proses  belajar para siswa sekarang ini. Dengan penerapan kurikulum dimana para guru hanya memberikan sebuah materi secara bertahap dari yang paling sederhana dan paling kompleks, sehingga para siswa dapat belajar untuk memahami konsep dari materi dan integrasinya dengan materi lain.

Bruner berpendapat bahwa seseorang murid belajar dengan cara menemui struktur konsep-konsep yang dipelajari. Anak-anak membentuk konsep dengan melihat benda-benda berdasarkan ciri-ciri persamaan dan perbedaan. Selain itu, pembelajaran didasarkan kepada merangsang siswa  menemukan konsep yang baru dengan menghubungkan kepada konsep yang lama melalui pembelajaran penemuan.

Contoh konkrit dari belajar kognitif yang berhubungan dengan dinamika sebagai mahasiswa IT ada banyak sekali. Salah satunya adalah ketika kami diminta untuk membuat sebuah kelompok yang terdiri dari 4-5 orang dan ibu Dina sebagai dosen mata kuliah Pengantar Psikologi Umum memberikan sebuah kata kunci untuk masing-masing kelompok. Ibu Dina meminta kami untuk berdiskusi tentang kata kunci tersebut dan mempresentasikannya di depan kelas. Nah, dalam hal ini kita secara tidak langsung sudah menerapkan proses belajar kognitif dalam membahas topik yang telah diberikan dengan menggunakan metode masing-masing anggota kelompok dalam menemukan konsep topik tersebut melalui diskusi.


C. Sumber Referensi

Berikut adalah beberapa sumber referensi yang kami gunakan dalam diskusi :
  1. http://juprimalino.blogspot.com/2012/02/tokoh-tokoh-teori-belajar-kognitif.html
  2. http://sainsmatika.blogspot.com/2012/04/teori-kognitif-dari-bruner-dan-teori.html
  3. Feldman, Robert S.(2012).Pengantar Psikologi (Understanding Psychology).Jakarta:Salemba Humanika.


D. Testimoni Secara Keseluruhan

Proses diskusi berjalan lancar dan diskusi berjalan dengan baik. Meskipun kami berdiskusi sambil bercanda dan cerita-cerita alias ngobrol tetapi tujuan diskusi tetap tercapai. Kami jadi memahami dan mengerti apa itu belajar kognitif dan bahkan sedang kami alami sebagai mahasiswa. Bahwa menjadi mahasiswa memang harus menerapkan belajar kognitif ini dengan menjadi mahasiswa yang aktif. Mengingat dosen hanya memberikan materi mata kuliah yang sedikit. Maka kami harus menggali lebih dalam tentang materi tersebut.

20 March 2013

Sensasi dan Persepsi di Sekeliling Kita


Hai.. Teman-teman! Apa kabarnya kali ini? Semoga teman-teman sehat selalu ya. Amiiiinnn. Pada postingan kali ini saya akan membahas tentang sensasi dan persepsi di sekeliling kita. Materi ini adalah salah satu materi yang diberikan oleh dosen mata kuliah Pengantar Psikologi Umum pada minggu lalu. Nah, apa sebenarnya sensasi dan persepsi itu? Setelah saya searching sana-sini di Google, saya mendapatkan beberapa penjelasan tentang sensasi dan persepsi .

Sensasi (sensation)  berasal dari bahasa latin : sensatus, yang artinya dianugerahi dengan indra, atau intelek. Atau Sensasi berasal dari kata “sense” yang artinya alat pengindraan, yang menghubungkan organisme dengan lingkungannya. Sensasi adalah proses penerimaan, penerjemahan, dan penyampaian informasi dari dunia luar. Tentu saja sensasi melibatkan kelima alat panca indra kita yaitu indra peraba (kulit), indra penglihatan (mata), indra pencium (hidung), indra pendengaran (telinga), dan indra perasa (lidah) dalam proses penerimaan rangsangan tersebut. Persepsi  (perception)  berasal dari bahasa Latin perception: dari percipere, yang artinya menerima atau mengambil. Persepsi merupakan proses menerjemahkan sensasi dan membuat informasi menjadi lebih bermakna. Proses persepsi sangat bergantung dari sensasi. Persepsi satu orang berbeda dengan orang lainnya karena orang memiliki pandangan-pandangan atau ide-ide yang berbeda tentang suatu hal.

Kali ini saya akan membagikan pengalaman saya tentang sensasi dan persepsi. Pada awalnya saya sangat bingung tentang apa pengalaman saya yang berhubungan dengan sensasi dan persepsi dan bahkan saya tidak tahu pengalaman apa yang akan saya bagikan. Namun, setelah cukup lama merenung dan berpikir keras.. hahahah lebay. Saya akhirnya menyadari bahwa sensasi dan persepsi itu adalah bagian dari kehidupan kita. Persepsi selalu terjadi di sekeliling kita dengan cara yang spontan dan tersirat setelah adanya proses sensasi. Saya memang tidak bisa menyebutkan semua pengalaman saya yang berhubungan dengan sensasi dan persepsi karena memang itu terlalu banyak. Saya akan membagikan sedikit saja pengalaman saya. Lets check it out friends.

Pengalaman saya yang pertama adalah pengalaman mengajar anak-anak les. Ini adalah pertama kalinya bagi saya untuk bekerja paruh waktu. Tapi saya lebih suka menyebutnya mengajari anak les daripada bekerja.  Di tempat les yang kecil-kecilan itu saya banyak berinteraksi dengan anak-anak SD sampai SMP yang masing-masing berbeda karakter dan sifatnya. Ada salah satu anak les bernama Pery yang baru duduk di kelas 1 SD. Sebenarnya Pery ini adalah anak baru di tempat les tersebut. Pery ini anak yang pendiam dan persepsi saya melihatnya itu menunjukkan anak yang baik (tidak nakal dan pecicilan). Namun, setelah seminggu dia belajar di tempat les tersebut ternyata persepsi saya salah. Ternyata Pery adalah anak yang sangat jahil dan pecicilan. Dia suka sekali mengganggu teman-temannya yang lain yang sedang belajar. Tentu saja teman-temannya yang lain merasa terganggu. Dia juga sukar sekali kalau diajari membaca dan menulis karena sifat aslinya yang pecicilan. Saya juga merasa kesal dan palak melihat tingkahnya. Akhirnya dia mau belajar setelah diberikan permen oleh ibu saya. Setelah itu saya berpikir dan mengerti bahwa anak-anak cenderung melakukan sesuatu setelah diberikan sebuah dorongan (stimulus).

Pengalaman saya yang lain adalah saat saya pertama kali masuk dan belajar di kampus Universitas Sumatera Utara. Waktu itu saya belum mengenal teman-teman saya di kampus TI. Ketika saya melihat teman-teman baru saya merasakan persepsi yang berbeda-beda antara teman-teman saya. Kita semua sudah tahu kalau hanya dengan melihat wajah seseorang maka kadang kita dapat menebak seperti apa orang tersebut. Jadi ada teman saya yang ketika saya melihatnya persepsi saya itu saya merasa dia orang yang sombong dan pendiam. Tapi lama kelamaan saya mengenalnya, ternyata persepsi saya salah karena dia orangnya baik dan enak diajak bicara. Saya tidak menyebutkan namanya karena takut nanti dia tersinggung. Hehehhe… Just like some words say “Don’t judge a book by its cover”.

Nah, ini adalah pengalaman terakhir saya yang akan saya bagikan. Seperti yang saya katakan diatas, pada awalnya saya benar-benar tidak tahu pengalaman apa yang akan dibagikan di blog ini karena saya belum ada ide. Lalu saya pun meminta pendapat dari beberapa teman saya melalui chatting gtalk. Mereka juga sedang sibuk mengerjakan tugas tentang membagikan pengalaman ini. Saya yang dari awal bingung mau posting pengalaman apa akhirnya saya pergi ke dapur untuk minum dan saya pergi ke kamar mandi. Pada saat itulah saya akhirnya mendapatkan ide untuk menulis ini. Saya pun langsung memberitahu teman saya di chat kalau saya punya ide untuk menulis blog. Kemudian mereka pun langsung membalas chat saya dan bertanya pengalamannya tentang apa. Saat saya sedang menulis postingan ini pun teman saya berulang kali bertanya pada saya sudah berapa kata yang saya tulis. Persepsi saya sangat yakin kali ini pasti teman saya itu sangat penasaran tentang tulisan saya yang aneh ini. Hahhaha …

Oke friends.. Itulah sedikit dari pengalaman saya tentang sensasi dan persepsi. Terima kasih sudah mengunjungi blog saya. Tetap tunggu postingan saya selanjutnya yaaa… See You..